Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mendorong lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) agar mampu bersaing di pasar kerja global. Bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional, Kemendikdasmen telah melepas lebih dari 3.000 lulusan SMK untuk bekerja di berbagai negara.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmen Diksus), Tatang Muttaqin, mengatakan bahwa capaian tersebut menjadi bukti bahwa lulusan pendidikan vokasi Indonesia semakin dipercaya oleh dunia internasional.
Menurutnya, saat ini banyak negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, Jerman, hingga sejumlah negara di Timur Tengah mengalami kekurangan tenaga kerja produktif. Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi Indonesia yang tengah memasuki era bonus demografi.
βJangan minder jadi anak SMK karena dunia hari ini tidak hanya mencari orang pintar, tetapi juga orang yang terampil, disiplin, dan mau terus belajar,β ujar Tatang dalam webinar bertajuk SMK Berani Mendunia: Sekolah di Indonesia Berkarier di Dunia.
Tatang menjelaskan bahwa peta karier lulusan SMK kini tidak lagi terbatas pada kawasan industri dalam negeri. Perkembangan ekonomi global dan meningkatnya mobilitas tenaga kerja internasional membuka kesempatan yang lebih luas bagi tenaga kerja terampil dari Indonesia.
Menurutnya, bonus demografi yang diperkirakan mencapai puncaknya pada 2030 harus dimanfaatkan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya lulusan pendidikan vokasi.
Ia menegaskan bahwa masa depan akan lebih berpihak kepada mereka yang mampu beradaptasi, memiliki keterampilan yang relevan, dan berani mengambil peluang di tingkat internasional.
Sementara itu, Direktur Sekolah Menengah Kejuruan Kemendikdasmen, Arie Wibowo Khurniawan, menjelaskan bahwa pemerintah telah menjalankan Program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK 3+1.
Program tersebut memberikan tambahan satu tahun pembelajaran setelah masa pendidikan reguler untuk memperkuat kesiapan lulusan yang ingin bekerja di luar negeri.
Dalam program ini, peserta mendapatkan pembekalan berupa:
- Penguasaan bahasa asing
- Kompetensi sesuai standar negara tujuan
- Persiapan fisik dan mental
- Literasi hukum dan keuangan
- Budaya kerja internasional
Menurut Arie, peluang kerja luar negeri bagi lulusan SMK sangat besar, namun harus diimbangi dengan kemampuan bahasa, sertifikasi kompetensi, dan perlindungan tenaga kerja yang memadai.
Keberhasilan program tersebut juga terlihat dari berbagai alumni SMK yang kini bekerja di luar negeri.
Beberapa di antaranya adalah Hadi Candra Maulana, alumni SMK Wikrama Bogor yang bekerja di Turki, serta Hafifa Indah dari SMK Muhammadiyah 1 Malang dan Zahra Pratiwi dari SMKN 1 Sale yang kini berkarier di Jepang.
Mereka menilai pendidikan vokasi yang diperoleh selama di SMK sangat membantu saat memasuki dunia kerja internasional.
Selain pembelajaran berbasis industri, pengalaman praktik kerja lapangan, pelatihan bahasa asing, dan pengenalan budaya kerja menjadi bekal penting untuk beradaptasi di negara tujuan.
Kemendikdasmen menilai bonus demografi yang dimiliki Indonesia merupakan peluang besar yang tidak boleh disia-siakan.
Melalui penguatan pendidikan vokasi dan kemitraan dengan berbagai pihak, pemerintah berharap semakin banyak lulusan SMK yang mampu bersaing dan berkarier di tingkat global.
Dengan meningkatnya jumlah tenaga kerja terampil yang bekerja di luar negeri, lulusan SMK tidak hanya berpeluang meningkatkan kualitas hidup mereka, tetapi juga membawa nama baik Indonesia di dunia internasional.


Belum ada komentar