Intel Core Ultra Series 3 Jadi Otak Robot Barista AI Tanpa GPU Terpisah

Intel Core Ultra Series 3 Jadi Otak Robot Barista AI Tanpa GPU Terpisah
Kucatat.com,

Intel mengungkap bagaimana prosesor Intel Core Ultra Series 3 mulai menjadi fondasi baru bagi generasi robot berbasis kecerdasan buatan (AI) yang beroperasi langsung di dunia nyata.

Mengutip Newsroom Intel, Salah satu contohnya adalah Ella, robot barista buatan Sensory AI yang kini sepenuhnya berjalan menggunakan arsitektur Intel tanpa bantuan kartu grafis (GPU) terpisah.

Robot tersebut mampu menerima pesanan, meracik kopi, berinteraksi dengan pelanggan, hingga menjalankan berbagai tugas AI secara bersamaan hanya dengan mengandalkan Intel Core Ultra Series 3.

Langkah ini dinilai sebagai perubahan besar dalam industri robotika karena selama ini banyak robot AI membutuhkan GPU diskrit yang mahal, boros daya, dan menghasilkan panas tinggi untuk memproses berbagai tugas kecerdasan buatan.

Ella dikembangkan oleh Sensory AI, perusahaan yang didirikan Keith Tan, mantan pemilik kafe di Singapura.

Ide pengembangan Ella berawal dari masalah yang umum terjadi di industri layanan, yakni tingginya tingkat pergantian karyawan dan sulitnya menjaga kualitas layanan yang konsisten.

Melalui robot berbasis AI, Tan ingin menghadirkan sistem yang mampu bekerja secara stabil tanpa bergantung pada ketersediaan tenaga kerja manusia.

Ella dapat menerima pesanan pelanggan, mengolah berbagai resep minuman, mengendalikan lengan robotik, serta menyajikan minuman secara otomatis dalam hitungan detik.

Bahkan robot tersebut dirancang untuk mampu melayani hingga 200 minuman per jam saat dipamerkan dalam ajang Computex 2026 di Taipei, Taiwan.

Menurut Keith Tan, generasi awal Ella masih menggunakan kombinasi prosesor Intel dan GPU terpisah untuk menjalankan berbagai beban kerja AI.

Namun biaya implementasi yang tinggi membuat pendekatan tersebut kurang ekonomis untuk bisnis skala nyata.

“GPU yang digunakan bahkan lebih mahal dibanding keseluruhan sistem robot itu sendiri,” ungkap Tan.

Karena itu, Sensory AI beralih sepenuhnya ke arsitektur Intel Core Ultra Series 3 yang mengintegrasikan CPU, GPU, dan NPU (Neural Processing Unit) dalam satu chip.

Pendekatan ini memungkinkan robot menjalankan proses AI secara lokal tanpa harus bergantung pada server cloud atau perangkat keras tambahan yang mahal.

Selain mengurangi biaya operasional, penggunaan satu chip juga membantu menekan konsumsi daya serta panas yang dihasilkan sistem.

Salah satu keunggulan utama Ella adalah kemampuannya menjalankan beberapa agen AI secara simultan.

Robot ini menggunakan tiga agen AI dengan tugas berbeda, yaitu:

  • Avatar Agent untuk berinteraksi dengan pelanggan
  • Ella Agent untuk mempelajari pola bisnis dan operasional toko
  • Guardian Agent untuk melakukan analisis kondisi sistem dan pengambilan keputusan

Sebagai contoh, ketika robot mendeteksi masalah seperti gelas yang saling menempel, Guardian Agent akan menganalisis situasi, sementara Avatar Agent memberi tahu pelanggan mengenai kendala yang terjadi.

Setelah itu sistem akan menginstruksikan lengan robot untuk menyelesaikan masalah secara otomatis.

Intel menyebut kemampuan tersebut dimungkinkan berkat arsitektur heterogen pada Core Ultra Series 3, di mana CPU, GPU, dan NPU dapat menangani tugas yang berbeda secara bersamaan.

Sensory AI bukan satu-satunya perusahaan yang mengadopsi Intel Core Ultra Series 3 untuk robot AI.

Trossen Robotics di Amerika Serikat mulai menguji prosesor tersebut untuk berbagai sistem robot industri dan penelitian machine learning.

Perusahaan tersebut menilai ekosistem x86 masih menjadi platform yang paling luas digunakan pengembang sehingga memudahkan proses pengembangan aplikasi robotika.

Sementara itu, perusahaan asal Korea Selatan, Circulus, menggunakan Intel Core Ultra Series 3 untuk sistem robot sosial dan humanoid yang mengutamakan pemrosesan AI secara lokal tanpa ketergantungan pada cloud.

Di Italia, Oversonic Robotics juga mulai menggunakan Intel Core Ultra Series 3 untuk robot humanoid yang digunakan dalam sektor manufaktur dan rehabilitasi kesehatan.

Robot-robot tersebut mampu mengenali manusia, memahami gerakan tubuh, serta melakukan penalaran secara real-time langsung dari perangkat tanpa memerlukan GPU tambahan.

Melalui berbagai implementasi tersebut, Intel ingin menunjukkan bahwa masa depan robotika tidak hanya bergantung pada peningkatan performa semata, tetapi juga efisiensi dan kemudahan penerapan di dunia nyata.

Dengan menggabungkan CPU, GPU, dan NPU ke dalam satu chip, Intel berharap semakin banyak pengembang dapat membangun robot AI yang lebih hemat biaya, mudah dirawat, dan mampu beroperasi secara mandiri tanpa ketergantungan pada cloud maupun GPU diskrit.

Perkembangan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa era Physical AI atau kecerdasan buatan yang hadir langsung di perangkat fisik semakin dekat dengan implementasi komersial yang luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kucatat Kucatat